Tipe Pencari Beasiswa Yang Ga Disukai Penyeleksi, Yuk Hindari

Share:

kobi education-tips pencari beasiswa-gambar calon pegawai sedang di interview oleh dua interviewer secara langsung

Mau mulai persiapan daftar beasiswa? Stop dulu! Ketahui tipe pencari beasiswa yang tim penyeleksi enggak suka. Biar aplikasi beasiswa kamu enggak auto ditolak!

 

Sebagai Pencari Beasiswa, kamu pasti udah punya target belajar di kampus impian. Tapi, tahu enggak sih, kadang-kadang tanpa sadar kita malah bikin kesalahan yang membuat mimpi itu semakin jauh?

 

Yap! Tanpa sadar, kamu bisa masuk ke auto reject dari tim penyeleksi gara-gara dianggap enggak serius dan asal-asalan.


Nah, buat menghindari hal itu, kamu perlu tahu nih, tipe-tipe Scholarship Hunter yang biasa langsung ditolak penyeleksi. Let’s check it out!

Tipe Pencari Beasiswa Yang Auto Ditolak Penyeleksi

1. Alasan Kuliah Masih Ngambang

Sebelum bersemangat mengumpulkan segala macam berkas, coba, deh, pastikan dulu, udah paham belum sama visi misi program beasiswa incaranmu? Plus, apa, sih, alasan kamu pengen kuliah di luar negeri? 

 

Enggak cuma sekadar pengen, ya, tapi harus ada alasan benar-benar kuat. Kalau alasanmu jelas, saat wawancara atau menulis esai, kamu lebih mudah jual diri sama tim penyeleksi.

 

Jangan asal ikut-ikutan teman atau pengen kelihatan keren aja, padahal bingung sendiri mau ngapain. It is a BIG NO!

 

Sebaiknya fokus cari tahu apa yang mau kamu capai dengan beasiswa itu. Bagaimana cara kamu memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya?

 

Buat alasan personal dan kontributif biar peluang lolos semakin besar! Tapi, pastikan alasan kamu selaras sama visi misi beasiswanya, ya!

2. Enggak Riset Jurusan dan Kampus Tujuan

Riset jurusan dan kampus tujuan itu krusial banget, lho! Enggak cuma sekadar jurusannya keren atau kampusnya terkenal, tapi cocok enggak sama minat serta tujuan karier kamu.

 

Jangan sampai udah terlanjur terbang ke negeri orang, eh… baru sadar kalau kamu salah jurusan. Nyesel banget, kan?

 

Kurang riset juga bisa jadi alasan kamu ditolak penyeleksi, lho! 

 

Misalnya, pas wawancara atau menulis esai kamu bilang pengen kuliah di jurusan X di kampus Y. Tapi, waktu ditanya lebih dalam, kamu cuma jawab seadanya. Enggak punya pemahaman jelas tentang jurusan serta kampus tujuan. Duh, auto dianggap red flag sama penyeleksi!

 

Terus, gimana cara riset yang benar?

 

Pertama, cek dulu bidang studi apa yang menjadi minatmu? Adakah materi yang kamu suka banget waktu belajar? 

 

Kemudian, setelah lulus mau jadi apa? Jurusan pilihanmu harus bisa membantu mencapai tujuan karier itu.

 

Nah, setelah menentukan jurusan, gali informasi sebanyak-banyaknya tentang jurusan itu. Mata kuliahnya apa aja, prospek kerjanya gimana, dan lain-lain.

 

Riset kampus juga penting. Cek reputasi kampus, fasilitas, lingkungan kampus, sampai review dari alumni serta mahasiswa di sana.

 

Pas wawancara, bawa data dan fakta yang mendukung alasanmu pilih jurusan serta kampus itu. Ini bakal kasih kesan kalau kamu serius dan well-prepared

 

Bikin penyeleksi auto senyum lagi, deh!

3. Skor IELTS atau TOEFL Enggak Memenuhi Syarat

Setiap beasiswa atau kampus punya standar masing-masing tentang skor IELTS/TOEFL. Bukan cuma overall score, tapi juga sections score-nya. 

 

Mau nekat kirim skor IELTS 5.0, padahal diminta 6.5? Enggak ada yang melarang juga, sih. Tapi, harapanmu buat lolos kayaknya bakal jadi harapan aja. Lebih baik penuhi skor minimal sesuai permintaan penyelenggara, ya!

 

Plus, hindari mengirim skor TOEFL, padahal persyaratannya IELTS. Ingat, persaingan beasiswa luar negeri itu sengit. 

 

Kamu enggak cuma bersaing sama 10 orang aja, tapi bisa ratusan bahkan ribuan pelamar. Kalau kurang serius saat mengirim persyaratan, bisa auto ditolak!

 

Pastikan kamu tahu persis skor IELTS/TOEFL yang diminta, termasuk tiap section-nya. Jadikan skor itu sebagai target belajarmu.

 

Luangkan waktu 1-2 jam setiap hari buat latihan. Lakukan simulasi ujian sampai skor-mu mencapai target. 

 

Kalau perlu, ikut kelas persiapan IELTS/TOEFL. Kadang, kamu butuh bimbingan lebih untuk mendapatkan skor bagus. 

 

Kalau belum lolos beasiswa karena skor IELTS/TOEFL, jangan patah semangat, ya! Siapkan plan B, mungkin ada beasiswa atau kampus lain dengan syarat lebih sesuai sama kemampuanmu.

4. Esai Kurang Powerful

Stop bikin esai asal-asalan! Esai itu super penting buat penyeleksi terkesan, lho! 

 

Melalui esai, kamu bisa menonjolkan diri serta meyakinkan penyeleksi bahwa dirimu layak mendapatkan beasiswa.

 

Biar esai lebih ciamik, siapkan waktu minimal satu bulan buat menulis. Hindari nulis esai waktu mepet-mepet deadline. Ingat, menulis esai itu bukan kerjaan semalam selesai. Butuh waktu buat cari ide, susun kata-kata, dan revisi.

 

Masukkan pengalaman atau cerita pribadimu ke dalam esai. Ini poin penting biar esaimu lebih unik dan berkesan.

 

Setelah itu, tunjukkan apa kelebihan atau kemampuanmu, tapi jangan lebay. Gunakan bahasa jelas dan to the point. Hindari typo serta kesalahan gramatikal lainnya.

 

Kamu bisa, kok, melihat contoh esai dari Internet atau Awardee sebelumnya sebagai referensi. Tapi, pastikan membuat esai versi kamu sendiri, jangan copy-paste

 

Selesai menulis, minta teman atau Mentor buat bantu review. Biar lebih yakin, coba minta bantuan proofreading esai dari jasa proofreading berpengalaman.

5. Berkas Pendaftaran Asal-Asalan dan Enggak Lengkap

Tipe pencari beasiswa yang berkas pendaftarannya asal-asalan dan kurang lengkap itu auto jadi incaran tim penyeleksi buat ditolak. Alias enggak ada jalan masuk buat keterima beasiswa!

 

Jadi, check and re-check berkas kamu sebelum dikirim. Bila perlu, bikin checklist berkas persyaratan. 

 

Enggak kalah penting, cek format file yang diminta. Jangan syaratnya PDF, kamu kirim JPG. 

 

Walau bisa di-upload, di sistem penyelenggara beasiswa file kamu bisa jadi enggak kebaca. Hasilnya? Kamu langsung kena swipe left sama penyeleksi.

 

Plus, pastikan dokumen enggak asal-asalan. Kalau penyelenggara minta ijazah diterjemahkan dalam Bahasa Inggris, jangan kirim berbahasa Indonesia. Minta bantuan jasa Penerjemah kredibel agar terjemahannya benar.

 

Kamu juga bisa simpan file backup di Google Drive atau One Drive. Jadi, kalau ada yang salah atau hilang, kamu punya cadangannya.

 

Intinya, jangan sampai kamu gagal gara-gara masalah berkas. Persiapkan semua dengan teliti, ya. 

6. Bohong Pas Ngisi Formulir Aplikasi

Penyeleksi bakal langsung ilfeel kalau kamu ketahuan bohong di formulir aplikasi beasiswa. 

 

Misalnya, melebih-lebihkan prestasi enggak sesuai fakta. Atau, bikin cerita pengalaman kerja atau sukarelawan, padahal enggak pernah kamu lakukan. Big no-no!

 

Jujur itu super penting dalam penilaian akademis, lho! Lebih baik ceritakan prestasi yang benar-benar dirimu capai, itu lebih mengesankan. 

 

Jaga konsistensi informasi antara CV, esai, dan berkas-berkas lainnya. Kalau ragu atau bingung sama formulir aplikasi, tanya Mentor atau orang berpengalaman. 

 

Ingat, bohong pas daftar beasiswa itu bukan cuma auto ditolak, tapi juga merusak reputasimu di masa depan.

7. Ngajak Berantem Interviewer

Yap! Pas interview beasiswa, attitude itu penting banget. Jangan kelihatan enggak sopan, apalagi kayak ngajak berantem. Bisa-bisa kesempatan jadi Awardee melayang!


Beberapa pertanyaan mungkin bisa membuatmu tersinggung atau enggak nyaman. Tapi, jangan sampai kehilangan kontrol atau meluapkan emosimu. Hadapi dengan tenang dan tetap percaya diri.


Biar lebih siap, coba
latihan interview sendiri atau minta bantuan teman. Persiapkan pertanyaan yang mungkin akan keluar.


Jangan lupa senyum!
Senyum bisa bikin suasana lebih positif. Plus, kamu kelihatan ramah dan terbuka. Pakai magic words (maaf, tolong, terima kasih) biar lebih sopan dan beradab. 


Penampilan juga penting, Sob! Gunakan
pakaian rapi dan profesional. Jaga body language biar kelihatan siap. Penampilan menunjukkan kamu respect dan menghargai proses interview.


Jadi, jaga sikap, pikirkan baik-baik sebelum bicara, serta tunjukkan kalau dirimu kandidat layak dan sopan.

Itu dia tipe pencari beasiswa yang enggak disukai sama penyeleksi. Jangan sampai kamu jadi salah satunya, ya!

 

Ingat, setiap detail bisa jadi penentu aplikasi beasiswamu bakal bersinar atau tenggelam. Hindari kesalahan-kesalahan yang bikin aplikasi beasiswa kamu ditolak.

 

Proses persiapan pendaftaran beasiswa itu memang terasa panjang plus melelahkan. Tapi, hasil akhirnya worth it banget, kok. 

 

Jangan ragu mencari informasi atau saran dari berbagai sumber, ya! Semoga berhasil meraih impianmu, SoBi!

Daftar Isi

Artikel Lainnya

Ingin up to date dengan artikel terbaru Kobi? Yuk subscribe sekarang 👉

Cek privacy policy disini