Kisah Sukses Thariq: Alumni Kobi Education Yang Buktikan Anak Pondok Bisa Tembus Kampus Top Eropa!

Siapa bilang anak pondok nggak bisa kuliah ke Eropa? Intip perjuangan Thariq, peraih LoA dari berbagai kampus di Belanda dan UK bersama Kobi Education!

Share:

kobi education-kisah sukses thariq-gambar dokumentasi bersama thariq

Siapa bilang lulusan Pondok Pesantren (Ponpes) ujung-ujungnya cuma bisa lanjut kuliah ke Timur Tengah? Statement tersebut ternyata berhasil dipatahkan oleh Thariq, salah satu alumni Program IELTS Preparation di Kobi Education. 

 

Pemuda asli Palembang lulusan Pondok Modern Darussalam Gontor ini baru aja panen Letter of Acceptance (LoA) dari berbagai kampus bergengsi di Eropa. 

 

Lewat kegigihan dan semangat juangnya, Thariq berhasil membuktikan bahwa mimpi study abroad ke Benua Biru bukanlah hal yang mustahil. 

 

Penasaran sama kisahnya? Yuk, intip perjuangan Thariq di bawah ini!

Banting Setir Dari Olimpiade Matematika ke Dunia Kepenulisan

Keinginan Thariq untuk kuliah di luar negeri ternyata udah tumbuh sejak ia duduk di bangku Kelas 6 SD yang awalnya muncul dari cerita pamannya yang tinggal di Jerman. 

 

Karena hal tersebut, Thariq semakin tertarik dengan sistem di Uni Eropa (European Union), sejalan dengan impiannya mengambil jurusan Political Science. 

 

Awalnya, Thariq merupakan seorang siswa SD yang rajin dapat juara lomba Matematika hingga meraih medali emas.

 

Bahkan, ia sempat dinyatakan lolos sebagai Runner-up di kompetisi internasional di Jakarta dan diundang ke kompetisi UCMAS (Universal Concept of Mental Arithmetic System). Sayangnya, ia harus gagal berangkat akibat pandemi Covid-19. 

 

Merasa sekolah online kurang efektif, Thariq memutuskan masuk pondok pesantren di Gontor. 

 

Keputusan Thariq ternyata cukup berat karena ia harus menghentikan pencapaiannya di bidang matematika dan berjuang menciptakan peluang baru dari nol.

 

Selama mondok di Gontor, Thariq mulai melatih kemampuan public speaking hingga berhasil meraih juara 3 lomba pidato Bahasa Inggris. 

 

Menyadari portofolionya terhenti di masa SMP, ia memanfaatkan masa pengabdiannya di sebuah pesantren di Indramayu untuk “tancap gasupgrade CV. 

 

Selain menjalani masa pengabdian di Indramayu, Thariq aktif menulis artikel di Kompasiana, membuat jurnal, hingga mendirikan klub pidato yang sukses mengantarkan santrinya menjadi juara di tingkat provinsi. 

 

Nggak cuma itu, Thariq juga udah menulis 7 buku edukasi, termasuk buku panduan pidato trilingual (Arab, Inggris, dan Indonesia) setebal hampir 200 halaman yang berhasil membawa dampak signifikan dan dijadikan kurikulum di pondoknya, lho. What an achievement!

Bangkit Setelah Ditolak Harvard University Bersama Kobi Education

Perjalanan study abroad yang ditempuh Thariq tentu aja nggak selamanya lurus dan mulus kayak jalan tol. 

 

Ia sempat mendaftar ke Harvard University, namun ditolak karena skor bahasa Inggrisnya yang masih pas-pasan dan ijazah SMA-nya belum turun akibat masa pengabdian yang belum selesai. 

 

Kegagalan yang dialami Thariq sempat membuatnya sedih sampai jatuh sakit selama dua hari. 

 

Namun, berkat konsultasi dengan orang tua dan pamannya di Jerman, Thariq kembali bangkit, mulai mengevaluasi diri, dan menyusun strategi baru untuk mendaftar ke University of Amsterdam di Belanda.  

 

Untuk memenuhi syarat pendaftaran ke kampus incarannya yang lain di Jerman, Thariq wajib melampirkan Sertifikat IELTS dengan skor minimal 6.5. 

 

Berdasarkan rekomendasi teman orang tuanya dan reputasi Kobi Education di media sosial yang sukses membimbing siswanya meraih skor tinggi, Thariq pun memutuskan untuk bergabung dengan Kelas IELTS Offline di Kobi.  

 

Sebelum masuk Kobi, kemampuan bahasa Inggris Thariq sebenarnya sangat fasih, lho, Kawan Kobi. Tapi, tantangan terbesarnya justru ada di skill Writing yang masih belum sempurna. 

 

Ia sering melupakan penempatan tanda baca dasar seperti titik, koma, dan huruf kapital karena terlalu fokus menyusun vocabulary yang menurutnya advance.  

 

“Aku anggap Kobi itu bukan cuma tempat untuk belajar, tapi juga bisa sebagai partner untuk sharing experience untuk study abroad,” ungkap Thariq. 

 

Saat dibimbing oleh Kak Joseph, Thariq mendapat banyak sekali insight berharga yang nggak cuma seputar materi IELTS, tapi juga soal kehidupan perkuliahan di luar negeri. Ia menikmati sistem belajar yang terstruktur, tutor yang suportif, dan metode pengajaran yang sangat detail.

Berhasil Panen LoA Dari UK dan Belanda

Kerja keras dan evaluasi belajar yang Thariq lakukan ternyata membuahkan hasil yang sangat manis. 

 

Ia sukses meraih Skor IELTS 7.0 pada tes resmi di British Council, lho, Kawan Kobi! 

 

Skor yang diraihnya bikin tingkat kepercayaan diri Thariq meningkat dan membawanya pada pencapaian gemilang. 

 

Thariq berhasil mendapatkan LoA dari University of Amsterdam (UvA) di awal bulan April Jurusan Political Science, di mana sekarang ia lagi incar peluang beasiswa untuk menutupi tuition fee.

 

Nggak cuma dapat LoA UvA, Thariq juga diterima di salah satu kampus di Jerman yang memberikan izin untuk mengambil Double Degree.

 

Selain itu, Thariq dapat LoA dari UK, lho, salah satunya dari University of St. Andrews. Nggak cuma itu, ia juga dapat full offer dari Aberystwyth University Jurusan Politics and International Relations, lengkap sama beasiswa senilai 2,000 GBP per tahun! 

 

Tapi, kalau Kawan Kobi ngira 4 LoA tadi udah keren banget, kalian salah besar! Ternyata, masih ada achievement lain yang nggak kalah mantap, lho. Kira-kira, apa ya?

 

Pencapaian yang didapat Thariq selain yang udah MinBi sebutin ada di saat ia menjalani proses interview di salah satu kampus lain.

 

Ternyata, sesi wawancara Thariq di kampus tersebut diikuti sama Profesor Anthony Teitler, salah satu dosen sekaligus kaprodi Jurusan Hubungan Internasional di Karlshochschule International University (Jerman). 

 

Plot twist-nya, Profesor Anthony malah tertarik sama CV Thariq, terutama pada track record ke penulisannya.

 

Bahkan, ia ngajak Thariq buat dibimbing secara langsung dalam pembuatan research paper di London School of Economics and Political Science (LSE) via Zoom, lho, Kawan Kobi!

Apa Rahasia di Balik Keberhasilan Thariq?

Di balik kesuksesan yang diraih Thariq, ternyata ada peran dan kepercayaan penuh dari Parents-nya. 

 

Mereka sangat suportif terhadap keputusan Thariq untuk mengambil kursus IELTS Offline di Jakarta bersama Kobi Education. 

 

“Alhamdulillah, Thariq berhasil dapat Skor 7 dan kami percaya bahwa setiap langkah yang dipilihnya adalah bagian dari proses untuk berkembang, mandiri, dan meraih masa depan yang lebih baik,” tutur Parents Thariq.

 

Sembari menjalani masa perkuliahan yang udah dimulai per 1 September lalu, Thariq kini lebih banyak ngisi waktu dengan membaca isu politik internasional di BBC atau National Geographic, serta mempelajari coding agar tetap relevan dengan perkembangan teknologi seperti saat ini.

 

Buat Kawan Kobi yang lagi berjuang kejar impian study abroad, ada pesan khusus nih dari Thariq buat kamu!

 

“Semuanya akan kelihatan mustahil sampai kamu mencapai hal itu. Fokus ke hal-hal yang mau di-achieve dan fokus ke hal-hal yang kurang untuk diperbaiki. Setiap masa ada cobaannya, tapi itu yang membuat diri kita lebih kuat dan kokoh.”  

 

Ingin punya cerita sukses menembus kampus top dunia seperti Thariq? 

 

Yuk, matangkan persiapan IELTS bareng Kobi Education sekarang juga dan wujudkan kampus impian kamu!  

Tentang Penulis Tim Kobi
Ditulis oleh Tim Editorial Kobi yang berpengalaman dalam memberikan informasi seputar beasiswa, tes IELTS dan SAT, serta persiapan studi S1 di luar negeri.
Mau up to date sama artikel terbarunya Kobi? Yuk subscribe sekarang! 👇

Cek privacy policy disini!